Valentine's Day Pumping Heart animasi-bergerak-kupu-kupu-0011 Contoh Tulisan Berjalan

Kamis, 31 Januari 2019

Artikel Budidaya Jamur

Bab I
Pendahuluan
Latar Belakang
Hasil gambar untuk jamur tiram
 
Jamur tiram dapat tumbuh dan berkembang dalam media yang terbuat dari serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastic. Pertumbuhan jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, kita harus mengetahui mengenai kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya sebelum kita melakukan budidaya jamur tiram.
Pada kehidupan alaminya jamur ini tumbuh di hutan dan biasanya tumbuh berkembang dibawah pohon berdaun le bar atau dibawah tanaman berkayu. Jamur Pleurotus ini tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak .
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa miselium yang disimpan di tempat yang redup, jumlahnya lebih banyak disbanding di temapat yang terang dari cahaya matahari yang penuh. Miselium adalah jaringan yang didalamnya kumpulan dari hifa jamur. Miselium dapat tumbuh pada sel dinding kayu dengan melakukan penetrasi pada dinding sel kayu dengan cara melubanginya. Proses penetrasi dinding sel kayu dibantu oleh enzim pemecah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang dihasilkan oleh jamur melalui ujung benang-benang miselium. Enzim tersebut mencerna senyawa kayu sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber (zat) makanan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Persiapan dan Syarat Tumbuh
1.    Persiapan Penanaman Jamur Tiram
Sebelum melakukan penanaman, hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus sudah tersedia, diantaranya rumah kumbung baglog, rak baglog, bibit jamur tiram, dan peralatan budidaya. Usahakan budidaya jamur tiram menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaat peralatan dapur.
Untuk mengoptimalkan hasil dalam usaha budidaya jamur tiram di dataran rendah dapat dilakukan dengan modifikasi terhadap bahan media dan takarannya, yakni dengan menambah atau mengurangi takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Dalam usaha skala kecil, eksperimen dalam menentukan takaran bahan media merupakan hal yang sangat penting guna memperoleh takaran yang pas. Hal ini mengingat jamur yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh berbeda tentu membutuhkan nutrisi dan media yang berbeda pula tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media dan lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.
Sebagai media tumbuh jamur tiram, serbuk gergaji berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi jamur. Kayu yang digunakan sebaiknya kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen jamur tiram.  Hal ini karena kayu keras banyak mengandung selulosa yang dibutuhkan oleh jamur. Jenis-jenis kayu keras yang bisa digunakan sebagai media tanam jamur tiram antara lain sengon, kayu kampung, dan kayu mahoni. Untuk mendapatkan serbuk kayu pembudidaya harus memperolehnya ditempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media biasanya sebuk kayu harus dikompos terlebih dahulu agar bisa terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan serbuk kayu dilakukan dengan cara menutupnya menggunakan plastik atau terpal selama 1-2 hari. Pengomposan berlangsung dengan baik jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50 derajat C.
Alternatif bahan yang bisa digunakan untuk mengganti serbuk kayu adalah berbagai macam ampas, misal ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, dan ampas teh. Namun, berdasarkan pengalaman petani jamur tiram di dataran rendah, media yang baik untuk digunakan tetap serbuk gergaji kayu.
Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat dan penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Sebelum membeli dedak dan tepung jagung, sebaiknya pastikan dahulu bahan-bahan tersebut masih baru. Jika memakai bahan yang sudah lama dikhawatirkan sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat pada tumbuhnya jenis jamur yang tidak dikehendaki. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun teung jagung memberikan kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut mirip. Namun, penggunaan dedak dianggap lebih efisien karena bisa memangkas biaya dan cenderung mudah dicari karena banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kapur (CaCo3) berfungsi sebagai sumber mineral dan pengatur pH. Kandungan Ca dalam kapur dapat menetralisir asam yang dikeluarkan meselium jamur yang juga bisa menyebabkan pH media menjadi rendah.
Alat dan Bahan
Untuk membudidayakan jamur tiram, diperlukan alat dan bahan sebagai berikut :
·         Kompor minyak tanah
·         Drum berdiameter 80 cm, tinggi 96 cm
·         Rak, dengan luas 3m²
·         pH meter
·         Thermometer
·         Sprayer / penyemprot, dengan pipa paralon 2 inci sebanyak 300 buah
·         Cincin
·         Lampu spirtus, dengan volume 30 liter
·         Baskom plastic
·         Sekpo
·         Serbuk kayu albasia sebanyak 10,5 kg
·         Dedak halus sebanyak 21 kg
·         Tepung jagung sebanyak 0,6 kg
·         TSP murni 1 kg
·         Kapur 3 buah
·         Bibit jamur F3 sebanyak 3 buah
·         Alcohol 95% sebanyak 1 liter
·         Kantung plastic transparan (20x35x0,5)  cm sebanyak 300 buah
·         Kertas roti 10 x 10 sebanyak 300 buah
·         Karet gelang tahan panas 600 buah
·         Air sumur 30 liter
2.    Syarat Tumbuh Jamur Tiram
IKLIM
a.    Temperature
Serat (miselium) jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada kisaran suhu antara 23-28 °C, artinya kisaran temperature normal untuk pertumbuhannya.  Waluapun begitu, dengan temperature di bawah 23 °C, miselium jamur masih dapat tumbuh meskipun memerlukan waktu yang lebih lambat.
Sedangkan untuk pertumbuhan tubuh buahnya yang bentuk seperti cangkang tiram, memerlukan kisaran suhu antara 13-15 °C selama 2 samapai 3 hari.
Bila nilai temperature rendah tersebut tidak didapatkan, maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu pertumbuhan tumbuh buah jamur tidak akan terbentuk, yang berarti pemeliharaan tidak berhasil, atau walaupun terbentuk maka waktu yang diperlukan akan lama. Tetapi walaupun demikian fase kedua jamur tiram putih tersebut masih dapat tumbuh pada rentang suhu 12-37,8 °C.
b.    Kelembapan
Kandungan air di dalam subtract sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur. Terlalu sedikit air akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu, bahkan terhenti sama sekali. Namun, apabila terlalu banyak air, miselium akan membusuk dan mati. Kandungan air didalam subtract tanaman akan didapat dengan baik bila dilakukan penyiraman.  Jamur tumbuh baik dalam keadaan yang lembab, tetapi tidak menghendaki genangan air. Miselium jamur tiram tumbuh optimal pada subtract yang memiliki kandungan air sekitar 60%. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan tubuh buah, memerlukan kelembapan udara sekitar 70-85%.
c.    Cahaya
Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada keadaan gelap. Sebaliknya, tubuh buah jamur tidak dapat tumbuh pada tempat gelap. Cahaya diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tubuh buah. Tangkai jamur akan tumbuh kecil dan tudung tumbuh abnormal bila saat pertumbuhan primordial tidak memperoleh penyiraman.
Akan tetapi, cahaya matahari yang menembus secara langsung dapat merusak dan menyebabkan kelayuan, serta ukuran tudung yang relative kecil. Pertumbuhan jamur hanya akan memerlukan cahaya yang bersifat menyebar. Oleh karena itu, diperlukan peneduh pohon di dekat bangunan tempat pemeliharaan jamur.
d.    Udara
Jamur tiram putih adalah tanaman saprofit fakultatif aerobic yang membutuhkan oksigen sebangai senyawa untuk pertumbuhannya. Sirkulasi udara yang lancer akan menjamin pasokan oksigen. Terbatasnya pasokan oksigen udara disekitar tempat tumbuh jamur dapat mengganggu pertumbuhan tubuh buah.
Jamur tiram juga yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksigen memiliki tubuh buah kecil dan abnormal. Tubuh buah jamur yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksisgen akan mudah layu  dan mati. Jamur tiram juga memerlukan sirkulasi udara segar untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, harus diberi ventilasi agar pertukaran udara dapat berjalan secara baik.
Pertumbuhan miselium jamur memerlukan kandungan karbon dioksida yang agak tinggi, yaitu 15%-20%. Tetapi, jamur tiram yang tumbuh pada tempat yang mengandung karbo dioksida yang terlalu tinggi memiliki tubuh buah yang abnormal. Biasanya, tudung jamur tiram tumbuuh relative kecil dibandingkan tangkainya.
e.    Derajat Keasaman (pH)
Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada pH media yang sedikit asam, yaitu antara 5,0-6,5. Nilai pH medium diperlukan untuk produksi metabolism dari jamur tiram putih, seperti produksi asam organic.
Kondisi asam dapat menyebabkan pertumbuhan miselium jamur tiram terganggu, tumbuh kontaminasi oleh jamur lain, bahkan menimbulkan kematian jamur tiram putih. Kondisi pH yang terlalu tinggi (basa), dapat menyebabkan system metabolism dari jamur tiram putih tidak efektif. Bahkan, menyebabkan kematian. Tubuh buah jamur tiram tumbuh optimal pada pH lingkungdn yang mendekati normal (pH 6,8-7,0).
B.   PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM
Salah satu penentu keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kebersihan dalam melakukan proses budidayanya, baik kebersihan tempat, alat, maupun pekerjanya. Hal ini karena kebersihan adalah hal yang mutlak harus dipenuhi. Untuk itu, tempat untuk penanaman sebaiknya harus dibersihkan dahulu dengan sapu, lantai dan dindingnya dibersihkan menggunakan disinfektan. Alat yang digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol dan dipanaskan di atas api lilin. Selain itu, selama melakukan penanaman para pekerja juga idealnya menggunakan masker. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya kontaminasi.
Dalam budidaya jamur tiram hal yang juga harus diperhatikan adalah menjaga suhu dan kelembaban ruang agar tetap pada standar yang dibutuhkan. Jika cuaca lebih kering, panas, atau berangin, tentu akan mempengaruhi suhu dan kelembaban dalam kumbung sehingga air cepat menguap. Bila demikian, sebaiknya frekuensi penyiraman ditingkatkan. Jika suhu terlalu tinggi dan kelembaban kurang, bisa membuat tubuh jamur sulit tumbuh atau bahkan tidak tumbuh. Oleh karena itu, atur juga sirkulasi udara di dalam kumbung agar jamur tidak cepat layu dan mati.
Pengaturan sirkulasi dapat dilakukan dengan cara menutup sebagian lubang sirkulasi ketika angin sedang kencang. Sirkulasi dapat dibuka semua ketika angin sedang dalam kecepatan normal. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai jamur kekurangan udara segar.
1.    PEMBUATAN JAMUR TIRAM
Adapun proses pembuatan jamur tiram adalah sebagai berikut
a.    Serbuk gergaji dipilih dan dibersihkan. Bagian yang besar dan tajam dibuang karena dapat merusak plastic substrat.
b.    Bahan yang sudah ada dicampur sesuai komposisi takaran dalam jolang / baskom plastic. Aduk sampai merata, jangan sampai ada gumpalan-gumpalan. Adapun bahan yang dicampurkan untuk menghasilkan 100 log adalah sebagai berikut :
Serbuk gergaji atau ampas tebu halus 10,5 kg
•   Tepung jagung 0,6 kg
•    Dedak halus 21 kg
•    TSP 1 kg
•    Kapur 3 buah Beri air secukupnya, dengan kandungan air 60% dan pHmedia diukur.
c.    Campuran bahan dimasukan ke dalam plastic transparan dengan ukuran 20 x 35 cm dan tebal 0,5. Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang baik. Media yang bagus adalah kepadatannya merata. Jangan lupa, ujung plastic bagian bawah ditusuk jari telunjuk supaya masak. Hal ini dilakukan agar bahan yang dimasukkan dan dipadatkan bisa duduk posisinya (tidak miring). Pengisian dilakukan tidak terlalu penuh, tapi disisakan 15 cm untuk memudahkan dalam mengikat.
d.    Tiap log ditimbang beratnya, yaitu sebanyak 1,2 kg.
e.    Sisa ujung plastic ke dalam cincin dilipat keluar, lalu diikat mulut plastic tersebut dengan karet tahan panas.
f.     Tutup mulut log tersebut dengan kapaskemudian tutup lagi dengan kertas, lalu diikat lagi dengan karet.
g.    Dilakukan pengukusan terhadap log media selama 12 jam.
h.    Lamanya pengukusan dihitung setelah air di dalam drum mendidih.
i.      Setelah selesai pengukusan, media di angkat dari drum. Lalu, biarkan selama 8 jam atau sampai dingin pada ruangan yang tertutup. Untuk selanjutnya, dilakukan penanaman bibit.
j.      Setelah media dingin, baru dilakukan penanaman bibit, caranya:
·         Penanaman bibit dilakuan di ruangan tertutup
·         Semprot isi ruangan dengan alcohol 95%
·         Gunakan sarung sarung tangan dan semprot dengan alcohol 95%
·         Untuk memudahkan penanaman bibit, media yang akan diinokulasi disimpan di depan dekat tangan kiri. Bibit yang akan ditanamkan disimpan di depan dekat tangan kanan. Antara media yang akan ditanami dan bibit, disimpan lampu spirtus.
·         Buka karet, kertas penutup, serta kapas penutup media.
·         Masukkan 3 sendok makan bibit untuk satu log media.
·         Setiap gerakan sendok yang dipakai, dipanaskan dengan api dari lampu spirtus.
·         Media yang sudah ditanami bibit tersebut ditutup kembali dengan kapas.
·         Penanaman bibit dikerjakan dengan cepat, tetapi harus teliti.
k.    Media yang sudah ditanami bibit disimpan di atas rak.
l.      Biarkan sampai seluruh media diisi miselium jamur.
m.   Miselium tumbuh memenuhi log media. Setelah seluruh log media ditumbuhi miselium, tutup kapas dan cincin pada bagian atas log tersebut dibuka.
n.    Kelembapan lingkungan dipertahankan dengan menyemprot menggunakan sprayer.
o.    Tubuh buah yang sudah cukup mekar dapat dipanen.

2.    Pengendalian Hama Penyakit Pada Budidaya Jamur Tiram

Selain pemeliharaan baglog, dalam budidaya jamur tiram juga perlu dilakukan perawatan untuk mencegah atau mengendalikan hama dan penyakit yang mungkin bisa menyerang jamur tiram. Hama dan penyakit yang menyerang jamur tiram tentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan maupun jamur itu sendiri. Sehingga antara tempat budidaya yang satu dan yang lain, serangan hama penyakit kemungkinan dapat berbeda-beda.
a.    hama penyakit jamur tiram
1)    Ulat
Ulat merupakan hama yang paling banyak ditemui dalam budidaya jamur tiram. Ada tiga faktor penyebab kemunculan hama ini yaitu faktor kelembaban, kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur dan jamur yang tidak terpanen, serta lingkungan yang tida bersih.
Hama ulat muncul ketika kelembaban udara berlebihan. Oleh sebab itu, hama ulat sering dijumpai ketika musim hujan. Pencegahan menjadi solusi terbaik untuk mengatasi hama ini adalah dengan mengatur sirkulasi udara. Caranya dengan membuka lubang sirkulasi dan untuk sementara proses penyiraman keumbung dihentikan.
Pangkal jamur yang tertinggal di baglog saat pemanenan dapat menimbulkan binatang kecil seperti kepik. Kepik inilah yang menjadi penyebab munculnya hama ulat. Sementara jamur yang tidak terpanen kemungkinan terjadi karena jamur tidak muncul keluar sehingga luput saat pemanenan dan menjadi busuk. Hal ini menyebabkan munculnya ulat. Sebaiknya, ketika melakukan pemanenan baglog telah dipastikan kebersihannya sehingga tidak ada pangkal atau batang dan jamur yang tidak terpanen.
Ulat bisa saja muncul karena rumah kumbung ataupun sekitar kumbung tidak berseih. Misalnya adanya kandang ternak atau tanaman di sekitar rumah kumbung. Untuk mencegah dan mengatasi serangan hama ulat, lakukan pembersihan rumah kumbung dan sekitar rumah kumbung dengan melakukan penyemprotan formalin.

2)    Semut, Laba-laba, dan Kleket (sejenis moluska)

Secara mekanis hama semut dan laba-laba dapat diatasi dengan membongkar sarangnya dan menyiramnya dengan minyak tanah. Sedangkan secara kemis hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida. Cara ini merupakan cara terakhir dan usahakan untuk menghindari penggunaan insektisida jika serangan tidak parah karena produk jamur merupakan produk organik. Keuntungan jika pemberantasan hama serangga dilakukan dengan cara mekanis antara lain, dapat memangkas biaya selama perawatan dan juga ramah lingkungan. Sementara itu hama kleket kerap dijumpai pada mulut baglog. Untuk mengendalikannya juga dilakukan dengan cara mekanis, yaitu mengambilnya dengan tangan.

 

b.    Tumbuhnya Cendawan Atau Jamur Lain

Jamur lain yang kerap mengganggu jamur tiram adalah Mucor sp., Rhizopus sp., Penicillium sp., dan Aspergillus sp. pada substrat atau baglog. Serangan jamur-jamur tersebut bersifat patogen yang ditandai dengan timbulnya miselium berwarna hitam, kuning, hijau, dan timbulnya lendir pada substrat. Miselium-miselium tersebut mengakibatkan pertumbuhan jamur tiram terhambat atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Penyakit ini dapat disebabkan karena lingkungan dan peralatan saat pembuatan media penanaman kurang bersih atau karena lingkungan kumbung yang terlalu lembab. Untuk mengatasi penyakit ini, lingkungan dan peralatan ketika pembuatan media dan penanaman perlu dijaga kebersihannya. Kelembaban di dalam kumbung juga diatur agar tidak berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang baglog yang sudah dibuka ataupun masih tertutup. Jika baglog sudah terserang maka harus segera dilakukan pemusnahan dengan cara dikeluarkan dari kumbung kemudian dibakar.
Tangkai Memanjang, Penyakit ini merupakan penyakit fisiologis yang ditandai dengan tangkai jamur memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara yang kurang sempurna. Agar tidak terserang penyakit ini harus dilakukan pengaturan ventilasi dalam kumbung seoptimal mungkin.
C.   Pasca Panen dan Panen
Pemanenan merupakan kegiatan budidaya yang selalu dinantikan oleh pelaku usaha. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka penanaman selama panen dan pasca panen harus dilakukan dengan baik.

1.    Waktu dan Cara Panen Jamur Tiram

Jamur tiram termasuk jenis tanaman budidaya yang memiliki masa panen cukup cepat. Panen jamur tiram dapat dilakukan dalam jangka waktu 40 hari setelah pembibitan atau setelah tubuh buah berkembang maksimal, yaitu sekitar 2-3 minggu setelah tubuh buah terbentuk. Perkembangan tubuh buah jamur tiram yang maksimal ditandai pula dengan meruncngnya bagian tepi jamur. Kriteria jamur yang layak untuk dipanen adalah jamur yang berukuran cukup besar dan bertepi runcing tetapi belum mekar penuh atau belum pecah. Jamur dengan kondisi demikian tidak mudah rusak jika dipanen. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika produk dipasarkan, misalnya keseragaman berat dan ukuran jamur tiram.

 

2.    Penanganan Pasca Panen Jamur Tiram

Penanganan yang dilakukan usai pemanenan jamur tiram bertujuan untuk menciptakan hasil akhir yang berkualitas sehingga sesuai dengan permintaan pasar. Berikut beberapa tahapan agar produk jamur tiram yang dihasilkan berkualitas baik.
3.    Penyortiran
Jamur yang telah dipanen harus segera dicuci dengan air bersih, kemudian bagian tubuh buahnya dipisahkan deri pangkalnya. Proses pencucian dan pemisahan ini penting untuk dilakukan karena bila selama proses budidaya petani menggunakan pestisida, biasaya racun pestisida akan mengendap pada bagian pangkal dan masih memungkinkan terdapat residu yang tertinggal pada tubuh buah. Setelah diyakini kebersihannya, proses sortasi dilakukan untuk mengelompokkan jamur tiram berdasarkan bentuk dan ukurannya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh hasil yang seragam sehingga akan menarik minat konsumen saat dipasarkan.
D.   Pengemasan dan Pemasaran

1.    Pengemasan dan Transportasi Hasil Panen Jamur Tiram

Pengemasan jamur tiram segar biasanya menggunakan plastik kedap udara. Semakin sedikit udara yang ada di dalam plastik, jamur tiram semakin tahan lama untuk disimpan. Namun, idealnya penyimpanan dengan plastik kedap udara hanya dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2-4 hari. Oleh karena itu, agar jamur tiram segar yang dijual tetap dalam kondisi baik, proses pengangkutan/transportasi tidak boleh terlalu lama dari proses pengemasannya. Seandainya jarak pengangkutan cukup jauh, sebaiknya alat transportasi dilengkapi dengan ruangan berpendingin.
Kemana Anda harus menjual hasil panen jamur tiram Anda? Sulit tidak melakukan pemasaran jamur tiram?
Dikarenakan kebutuhan dan pemenuhan akan jamur tiram masih tinggi seperti yang telah saya jelaskan pada beberapa postingan tentang jamur tiram, Anda tidak perlu takut jamur Anda tidak ada yang beli. Pemasaran yang termudah adalah dengan menjualnya ke pengepul (broker). Jamur tiram selalu dicari keberadaannya oleh pengepul terlebih apabila daerah Anda sudah tidak asing dengan budidaya jamur tiram. Saat ini harga yang diberikan pengepul kepada petani berkisar antara Rp 30.000 – Rp 40.000/kg.
Predikisi saya, harga jamur tiram bisa terus merangkak naik ke atas dikarenakan isu harga daging sapi yang masih mahal. Mengapa demikian, karena masyarakat cenderung beralih ke daging ayam dan jamur tiram sebagai alternatif pengganti daging sapi.
Namun jika Anda menginginkan harga yang lebih tinggi, Anda bisa mengolah hasil panen Anda menjadi produk olahan misalnya menjadi jamur tiram crispy yang harganya saat ini berkisar Rp 150.000/kg. Jika Anda memiliki link atau channel ke hotel-hotel atau restoran besar, Anda dapat menjual jamur Anda dengan harga yang lebih tinggi daripada ke pengepul, hanya saja Anda harus bisa menjaga kualitas dan kuantitas jamur tiram Anda dengan baik.

Tugas Vedio




Kamis, 17 Januari 2019

sejarah seni tari tradisional indonesia

Pengertian Dan Sejarah Seni Tari Indonesia

 

Pengertian Dan Sejarah Seni Tari Indonesia -  Pengertin Tari - Perkembangan seni tari di Indonesia dewasa ini tergolong cukup berkembang . Sempat "mati suri " di beberapa tahun belakangan ini , seni tari mulai digalakan kembali. salah satunya di kegiatan extrakulikuer di sekolah . Hal tersebut sedikit banyak membantu perkembangan dunia tari di Indonesia .
Adapun Pengertian Dan Sejarah Seni Tari Indonesia adalah sebagai berikut :

Pengertian Dan Sejarah Seni Tari Indonesia
Pengertian Dan Sejarah Seni Tari Indonesia



Definisi Tari :

Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam.
Jenis Tari Berdasarkan Koreografinya :

Tari tunggal ( Solo ), Tari tunggal adalah tari yang diperagakan oleh seorang penari, baik laki-laki maupun perempuan. Contohnya tari Golek ( Jawa Tengah )
Tari berpasangan ( duet/pas de duex), Tari berpasangan adalah tari yang diperagakan oleh dua orang secara berpasangan. Contohnya tari Topeng (Jawa Barat)
Tari kelompok ( Group choreography), Tari kelompok yaitu tari yang diperagakan lebih dari dua orang.
Tari kolosal adalah tari yang dilakukan secara massal lebih dari banyak kelompok dan biasanya dilakukan oleh setiap suku bangsa diseluruh daerah Nusantara.
Sejarah Singkat Seni Tari Di Indonesia :
 
Indonesia merupakan Negara dengan beraneka ragam macam budaya. Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda, Salah satu bentuk ciri khas kebudayaan setiap daerah di wujudkan dengan tari khas kebudayaan masing-masing setiap daerah. Dengan musik dan gerak menciptakan sebuah tarian yang menceritakan kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia . Kami kali ini akan membahas tentang perkembang Tari Traditional di Indonesia. Setiap tarian menceritakan kisah yang telah mereka alami. Terjadinya penciptaan tarian pada awalnya dilandasi oleh beberapa hal di antaranya :
1. Terjadi pada acara adat atau ritual keagamaan
2. Ritual Penyembuhan
3. Pesta rakyat / panen yang melimpah
4. Cerita cinta pada zaman terdahulu
5. Permainan Rakyat
 
Indonesia adalah salah satu negara jajahan, sekita 200 SM Indonesia sudah di datangai oleh negara-negara lain dan selama 350 tahun Indonesia di jajah oleh belanda,maka dari itu secara garis besar perkembangan seni pertunjukan Indonesia khusunya tari tradisional sangat dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya besar dari luar melalui kolonialisasi. James R. Brandon (1967), salah seorang peneliti seni pertunjukan Asia Tenggara asal Eropa,membagi empat periode budaya di Asia Tenggara termasuk Indonesia yaitu:
1) periode pra-sejarah sekitar 2500 tahun sebelum Masehi sampai 100 Masehi (M)
2) periode sekitar 100 M sampai 1000 M masuknya kebudayaan India,
3) periode sekitar 1300 M sampai 1750 pengaruh Islam masuk, dan
4) periode sekitar 1750M sampai akhir Perang Dunia II.
 
Pada masa dahulu Tarian juga tercipta dari beberapa tema pada masanya yaitu :
1. Tari Bercorak Hindu-Budha
2. Tari bercorak Islam
3. Tari Kraton / Kerajaan.
 
Kurang lebih terdapat 3000 tari traditional di indonesia dan dari 3000 tarian ada beberapa tarian yang di kenal didunia yaitu diantaranya Tari Pendet-Tari kecak (Bali),Tari Saman (aceh), Tari Reog ponorogo (jawa timur),Tari klasik kraton surakarta (surakarta) ,Tari Jaipong (Jawa barat),Tari Piring (Padang),Tari Lenggang Nyai (jakarta/Betawi).
Demikian Pengertian Dan Sejarah Seni Tari Indonesia yang kami rangkum untuk sobat sekalain . semoga bermanfaat . Terimakasih
 

Budi Daya Ulat Bulu Sutra

Usaha Budidaya Ternak Ulat Sutra untuk Mendapatkan Sutera Terbaik

Ternak Ulat Sutra
Ulat Sutra

Sepertinya sudah bukan rahasia lagi ya kalau ulat sutera ini sangat tinggi kebutuhannya. Sayangnya masih sedikit yang mencoba usaha budidaya ternak ulat sutra. Padahal kalau dilirik lagi usaha ini peluangnya besar sekali.
Selain untuk dunia fashion, ternyata kepompongnya sering digunakan untuk masker kecantikan. Kadang kita sedikit takut mencoba usaha ini karena kekhawatiran kerugian yang besar. Tapi apakah harus serumit harganya di pasaran?
Harga tinggi, perawatannya juga butuh konsentrasi tinggi? Setelah membaca ulasan ini Anda mungkin baru bisa memutuskan.

Sekilas Tentang Ulat Sutra (Ulat Murbei)

Ulat Murbei atau yang lebih dikenal dengan ulat Sutra adalah salah satu jenis ngengat yang bisa menghasilkan serat atau benang sutra/ sutera. Ulat ini hanya memakan daun Murbei, sehingga untuk membudidayakannya maka peternak harus punya pasokan daun Murbei yang baik.
Dalamperkembangan menjadi ulat, sebutir telur ulat sutera butuh waktu 10 hari agar menetas. Setelah telur tersebut menetas dan menjadi ulat, maka akan terbentuk kepompong mentah.
Kepompong tersebutlah yang nantinya dipintal menjadi benang sutera yang panjangnya bisa mencapai 300 meter hingga 900 meter dengan diamater 10 mikrometer.
Dalam hidup Ulat Sutera terjadi empat fase ganti kulit. Ketika warna kulit ulat Sutera telah kekuningan dan lebih ketat, maka ini menandakan bahwa ulat Sutera tersebut akan segera membungkus diri dan berubah menjadi kepompong.

Usaha Budidaya Ternak Ulat Sutra – Prosedur Pembibitan Perawatan dan Cara Panen

A. Bagaimana Sih Kandang Sutera yang Ideal?

1. Lokasi Kandang
Memang, ulat sutra ini adalah binatang yang spesial di dunia peternakan. Pembuatan kandang untuk ulat ini dipastikan harus aman; jauh dari binatang, kalau bisa dekat dengan pohon murbay, kalau tidak nanti kandangnya dibuat mendekati lingkungan aslinya.
Selain itu, sebaiknya pintu dan jendela menghadap ke utara dan selatan untuk menghindari paparan sinar matahari. Satu hal lagi! Sebaiknya kandang terbuat dari kayu. Hindari bahan apa pun yang terbuat dari metal karena berpengaruh besar pada tingkat kelembabannya.
2. Rak Ulat Sutra

Buatlah rak susun untuk menampung ulat sutra. Bentuknya kotak persegi panjang. Buat sebanyak mungkin kotak ulat sutera untuk memisahkan ulat muda dan dewasa.

B. Perawatan Ulat Sutra

Sterilisasi Kandang
Hal terpenting yang perlu diwaspadai oleh pengusaha budidaya ternak ulat sutra adalah perawatan. Hal ini meliputi proses desinfeksi. Sterilkan ruangan kandang dengan larutan kaporit atau bisa juga dengan formalin.
Kadar yang direkomendasikan adalah 0,5% (kaporit) dan 3% (formalin). Kemudian tutup ruangan agar patogen mati, dan buka kembali 24 jam sebelum pengandangan ulat dimulai.

C. Pembibitan Ulat Sutera

Selanjutnya proses inkubasi. Masa inkubasi ini harus bersuhu sekitar 25°C dengan kadar kelembapan 80%-85%. Ulat akan menetas dalam rentang waktu 10-12 hari. Nah, waktu bibit ulat sutra ini menetas, ambil bayi ulat dengan hati-hati dan pindahkan ke kotak yang sudah dilapisi kertas parafin atau koran bekas lalu diletakkan daun murbery muda segar yang telah dicacah.
Nah, gunanya kertas ini untuk menjaga kelembapan daun murbery agar tetap segar. Kalau khawatir ulatter luka, gunakan bulu ayam atau angsa untuk memindahkan ulat dari tempat penetasan.

D. Cara Memberi Makan Ulat Sutra

Ada beberapa tahapan perawatan yang membutuhkan treatment berbeda. Jadi tidak melulu diberi makan. Hal-hal penting berikut wajib diperhatikan:
Instar 1– masa setelah lahir. Kira-kira 4 hari ulat muda ini membutuhkan nutrisi dan membutuhkan makan. Beri cacahan daun murbery muda.
Moulting – masa ini merupakan pengelupasan kulit dan masuk di tahapan instar yang berlangsung sekitar 18-24 jam. Pada periode ini jangan dikasih makan. Tanda-tanda moulting meliputi kepala membesar, diangkat dan ulat tidak bergerak.
Catatan: saat proses moulting terjadi, rak harus kering dan tidak ditutup.
Kalau masa moulting sudah selesai maka harus segera dipisahkan. Tanda-tandanya ulat mulai aktif, bagian mulut lebih lebar, kulitnya kendor dan kelupasan kulit terlihat di kotak.
Instar 2 – beri makan ulat dengan daun sekitar 4hari sebelum kembali ke sesi moulting lagi.
Instar 3 – kalau siklus ke-duatelah selesai, berikan daun murbey segar dan hijau selama 3 hari.Biasanya setelah ini akan kembali ke masa moulting.
Instar 4 – Berikan makan lagi selama 6 hari.
Instar 5 – Di masa ini, beri makan selama 7 hari dan amati setiap perubahan tubuhnya, jangan sampai terlalu besar dan dewasa.

E. Saat Proses Mounting

Periode mounting adalah masa ulat akan dipindahkan dari rak pengembangbiakan ke montase. Periode ini dimulai dari setelah instar ke-5 berakhir. Pada masa ini, ulat sutra sudah matang. Nah, tanda-tandanya antara lain:
  • Larva berhenti makan dan mencari sudut untuk melakukan pemintalan. Biasanya mereka bergerak ke sudut kotak.
  • Panjang menyusut
  • Warna putih krem dan tubuh dipenuhi sutera.
Pemindahan ulat ke proses pounting harus disiapkan kotak yang berisi kotak-kotak kecil lagi agar ulat bisa membentuk kepompong. Temperatur idealnya adalah 26°C dengan kelembaban 60-70%

F. Kapan Masa Panen Ulat Sutera?

Ulat sutera boleh dipanen setelah hari ke 7-8. Dalam hal ini ulat akan membentuk dirinya menjadi pupa dan ulatnya menjadi mengeras serta bewarna kecoklatan.
Selain faktor di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan. Usaha budidaya ternak ulat sutra Anda pasti nanti terkena penyakit dan ini perawatannya bisa bermacam-macam. Begitu Anda melihat ada ulat terkena penyakit, segera pisahkan karena bisa menular dan mengganggu produktifitas usaha budidaya ternak ulat sutra Anda.

Sekian informasi dasar mengenai budidaya ulat sutra. Sekarang keputusan di tangan Anda, rumit atau tidak?